Sorot Hukum

Densus 88 Tangkap Penyalur Teroris di Kalimantan Utara

FAKTAAKTUAL.COM, KALIMANTAN – Densus 88 Antiteror Polri tangkap pria asal Jawa Barat bernama Reza Nurjamil (26) di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, karena diduga berperan jadi penyalur teroris dari Indonesia ke luar negeri, terutama Suriah dan Filipina.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Muhammad Iqbal, kepada wartawan di Jakarta, Jumat, 5 Januari 2018.  “Perannya adalah melakukan pengiriman beberapa orang dari luar negeri ke Indonesia maupun Indonesia ke luar negeri,” kata

Sebelum dikirim ke luar negeri atau orang asing yang dimasukkan ke Indonesia, jelas Iqbal, Reza memberi pendidikan khusus. “Akan dididik dan didoktrinasi dulu,” ujarnya.

Reza ditangkap Densus 88 Antiteror di rumah kontrakannya di Nunukan pada Minggu, 31 Desember 2017.

Hasil penyelidikan sementara diketahui Reza merupakan anggota kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) asal Tasikmalaya, Jawa Barat.

JAD yang dulu bernama Tauhid Waljihad merupakan jaringan teroris yang berafiliasi ke Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan menurut polisi berada di balik sejumlah kasus teror di Indonesia seperti serangan di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat pada 2016 dan bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur pada Mei 2017.

Polri menduga Reza ditugaskan JAD di pos wilayah Nunukan sebagai “panitia hijrah Filipina” atau agen yang membantu menyalurkan teroris.

Photo, Densus 88 Tangkap, penyalur Teroris dari dan dalam negeri dikalimantan.
Photo, Densus 88 Tangkap, penyalur Teroris dari dan dalam negeri dikalimantan.

Para media meminta perkembangan lebih lanjut terkait perkembangan jaringan teroris ini, Jumat 9/2/2018, namun belum ada pernyataan resmi dari pihak Kepolisian.

Berbagai Pihak Pengamat,  Al Chaidar, pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh di Lhokseumawe, Aceh, menduga Reza punya peran sentral  ‘Pemain utama’ di jaringan JAD dalam menyalurkan teroris ke Suriah dan Filipina. “Dia pemain utama,” katanya saat diihubungi media.

Chaidar menyebutkan dari data yang diperolehnya, Reza diduga sudah mengirimkan 12 orang teroris dari Indonesia ke Filipina dan Suriah.

“Dari luar (negeri) dimasukkan ke dalam (Indonesia) itu baru empat orang,” ujarnya, yang menyebutkan mereka orang Uighur yang berasal dari China dan Turki.

Al Chaidar berbeda pendapat dengan peneliti terorisme dan intelijen dari Universitas Indonesia, Ridlwan Habib, menganggap Reza bukan pemain utama.

Reza, menurut Ridlwan, hanya membantu mengirim orang-orang yang sudah yakin ingin “berjihad” dalam jaringannya. “Reza hanya sebagai operasional traveling, mencarikan tiket, mencarikan jalur, teknis banget,” katanya.

“Tentu bukan (pemain) utama. Namanya belum pernah muncul dalam kasus-kasus besar, jadi kami duga dia hanya semacam petugas perantara antara manager yang ada di Indonesia dan manager di luar negeri,” ujarnya kepada media.

Photo, Densus 88 Tangkap, penyalur Teroris dari dan dalam negeri dikalimantan.
Photo, Densus 88 Tangkap, penyalur Teroris dari dan dalam negeri dikalimantan.

Ridlwan menambahkan Reza bisa dijadikan pintu masuk bagi Polri untuk mengungkap jaringan rekrutmen dan mekanisme atau cara menyalurkan teroris ke luar negeri.

“Ketika seseorang itu akan berangkat ke luar negeri apakah berdiam diri dulu di suatu tempat, kalau iya mereka berdiamnya di mana? Apakah menggunakan kontrakan atau mengunakan apa, Bagaimana mekanisme dia dilindungi, apakah dijemput diam-diam atau berangkat dengan angkutan umum dan seterusnya. Ini sangat menarik kalau kita pelajari pola-pola mereka mengirimkan orang ke luar negeri,” ujarnya.

Polri telah menangkap 172 terduga teroris selama 2017. Jumlah ini meningkat dibanding tahun 2016 yang 163 orang dan 2015 sebanyak 73 orang.

Dari 172 orang yang ditangkap, 16 di antaranya tewas ditembak karena melawan. Dua orang tewas dalam aksi bom bunuh diri di Kampung Melayu, pada 24 Mei 2017.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan meningkatnya penangkapan terduga teroris karena jajarannya gencar melakukan penindakan. Tito menyebutkan ada 18 polisi menjadi korban serangan teror selama 2017, empat di antaranya tewas – termasuk dua orang dalam aksi di Kampung Melayu.

Menurut Chaidar wilayah perbatasan wajib diperketat, Polri harus memperketat pengawasan wilayah perbatasan untuk mengantisipasi keluar masuknya teroris, karena pelaku bisa mudah kabur ke luar negeri saat aksinya diintai polisi.

“Wilayah perbatasan perlu dijaga karena rawan sekali, Contohnya daerah Nunukan, ini memang daerah paling strategis untuk menyeberangkan orang-orang yang sudah direkrut, orang-orang yang mau direkrut juga gampang.”Kata Chaidar.

Hal serupa diucapakan Ridlwan, supaya Imigrasi dan Densus 88 perlu meningkatkan kerja sama dan sinergi. “Intelijen imigrasi harus lebih dilibatkan dalam penanganan terorisme lintas negara ini,” jelasnya.(benarnews.org).

Redaksi.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker