Ketua Tim Peduli Tapal Batas Adat, Musa Boma: Jagalah, Kerja Sudah Saya Lakukan

FAKTAAKTUAL.COM, PAPUA TENGAH – Tak kenal lelah dan apa kata orang, hati yang tulus serta pikiran yang tenang tanpa kenal lelah, demi menempuh suatu wujud kepedulian untuk anak cucu kelak, serta menghilangkan intrik perselisihan dimasa yang akan datang, sepenuh perjuangan Musa Boma melangkahkan kaki berhari-hari bersama kru demi tertancapnya “plang bertulis” sebagai tapal batas hutan adat didaerahnya.
“Tanam semplat Tapal Batas Adat, jaga antara suku Kamoro dengan suku Mee sudah selesai, mari kita jaga hutan adat kita”. Begitu ucapan Ketua Tim Peduli Alam dan Manusia Kapiraya Musa Boma dilokasi penancapan plang batas.
Boma menjelaskan dalam release beritanya kepada redaksi faktaaktual.com melalui WhatsApp nya, Awal mulai kerja dan bergerak hingga pada selesai tanam semplat Tapal Batas Adat, dirinya menghadapi banyak masalah dan banyak tantangan akan tetapi semua itu diterima dan ditelaah, dianggap sebagai ujian dan cobaan keteguhan hati namun tak pernah mundur selangkah pun demi kedamaian alam dan manusia.
Puji Tuhan akhirnya Tapal Batas Adat dengan Lima desa diputuskan dan disepakati bersama -sama pada tanggal 19 September 2024 dibalai desa Akar, dan dengan demikian tapal batas adat pun tertancap sudah.
“Demi untuk Membela dan memelihara tanah adat dan manusia, kita tidak bisa hanya bicara-bicara atau ephoria saja tetapi kita harus terjun dan terlibat langsung didalamnya dan bukti kerja nyata kita menjadi fakta dimasa depan hingga anak cucu kita”. Ucap Musa Bima mempertegas kerja nyata mereka, Kamis 17/10/2024.
Ucapkan Terima kasih pun tak lupa dihaturkan tokoh pemuda ini, baik Kepada semua pihak yang telah membantu mereka dalam doa, maupun secara moril dan materil dan terutama kepada semua masyarakat Adat Mapia.
“Secara pribadi saya menyampaikan apresiasi yang setinggi tingginya kepada Tim saya, sekalipun perjalanan dari Atoupugi cuaca tidak mendukung, namun tetap kita tempuh. Perjalanan diwaktu 7 malam 8 hari ini sungguh menguras tenaga dan pikiran serta tantangan, tetapi kita tetap bertahan dan sabar menghadapi situasi sehingga pada akhirnya selesai tugas suka rela kita, sekali lagi, terima kasih banyak teman-teman baikku”. Ucap Boma dalam mengenang perjalanan.
Sesuatu teka teki bahasa yang disampaikan oleh ketua pemuda satu itu, bahwa mereka akan hadir untuk membela yang tidak bisa bela, dan memperjuangkan yang tidak pernah diperjuangkan, serta melihat yang tidak bisa dilihat. “Sesungguhnya suara mereka terdengar jelas dan benar tapi tidak didengar, kami akan hadir untuk mereka”.
Sebagai ending dari perjalannya, Musa Boma Sebagai ketua Tim Peduli Alam dan Manusia Kapiraya mengingatkan kepada seluruh rakyat Mapia bahwa dengan hadirnya Papua Tengah di Nabire, hutan adat Mapia rentan Terancam. Hal itu tidak bisa biarkan, namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa mau tidak mau suka atau tidak suka akan terjadi hal itu, dan akan tetap terjadi namun bukan untuk saat ini, dengan demikian mari kita jaga dan kita selamatkan hutan adat kita.
“Manusia hidup diatas tanah, dan tanah merupakan warisan sejuta sumber kehidupan, juga bermuatan jutaan jenis harta karun yang Allah titip kepada manusia, untuk melindungi dan dilindungi sehingga manusia diberi kuasa untuk mengelola tanah ini dengan adil dan benar untuk tempat kita hidup dan diatas tanah kita sendiri”. tuturnya.(Musa Boma)
Redaksi.




