News

Prihatin, Gubsu Dianggap Asbun Soal FDT

FAKTAAKTUAL.COM, BATAM – Setelah viral suara Gubernur Sumatera Utara yang menyebut “Festival Danau Toba tidak bermanfaat” dibeberapa media online, banyak masyarakat diseputaran Danau Toba menganggab Gubernur Sumut terkesan asal bunyi tanpa mengetahui latar belakangnya.

Ulasan terkait Pesta Danau Toba, bermula dari tradisi lokal, adat istiadat atau ritual adat yang dilakukan oleh setiap suku yang mengelilingi putaran Danau Toba, ritual yang dilakukan merupakan wujud syukur kepada Sang Khalik atas penciptaanNya adanya Danau Toba yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat setempat.

Kemudian pada tahun 1980, Para tokoh masyarakat seputar Danau Toba, yaitu Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Pakpak maupun suku lainnya, bersama pemerintah setempat menyatukan misi visi untuk melakukan adat tradisi tersebut serta meningkatkannya dengan menambah beberapa lomba seperti lomba tangkap ikan, lomba solu bolon dan renang jarak jauh yang disebut dengan PESTA DANAU TOBA.

Berdasar itulah, kemudian Negara (Pemerintah Pusat) melirik Danau Toba untuk dijadikan icon wisata Nasional maupun Internasional yang diperkirakan bisa mendunia. Pada Tahun 2013,  Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Nirwandar, bersama pemerintah daerah serta tokoh masyarakat setempat merubah nama dari “Pesta Danau Toba menjadi Festival Danau Toba”.

Mempertimbangkan sejarah yang ada, sehingga Presiden Jokowidodo berani mengeluarkan APBN hingga triliunan rupiah untuk membangun infrastruktur menuju Danau Toba karena dianggab mampu membangkitkan gairah pariwisata Internasional dengan potensi keajaiban Dunia.

Sebagai penduduk asli Tapanuli, yang merantau dinegeri seberang di Batam, juga prihatin atas statement Gubernur Sumatera Utara yang menyebut Festival Danau Toba tidak bermanfaat.

Menurut pimred faktaaktual.com, Statement Edi Ramayadi sebagai Gubernur Sumut ibarat orang yang meludah keatas dimana ludahnya justru menimpa jidatnya sendiri. Atau statement gubernur tersebut merupakan tantangan terbuka terhadap Presiden atas kebijakannya membangun Danau Toba hingga membentuk Badan Otorita Danau Toba. Serta merta menantang masyarakat seputaran Danau Toba meng-isyaratkan Adat tradisi diseputaran Danau Toba tidak berharga atau tidak berarti. Atau mungkin Gubernur tidak tau sejarah dan tidak paham atas apa dan bagaimana manfaat diwilayah teritorialnya.

“Saya kira statement Gubernur itu merupakan tantangan terbuka kepada Negara (Presiden Jokowidodo) atas kebijakan dan misi visinya membangun Danau Toba. Jika dianggap tidak bernanfaat, bukankah kewajiban seorang Gubernur lebih meningkatkan wilayah teritorialnya lebih potensial dan menciptakan lompatan ekonomi ?”. Jelasnya dalam obrolan lepas bersama sesama perantau dari daratan pinggiran Danau Toba, Senin 13/1/2020.

Gamal Purba berpendapat, Supaya Gubernur Sumut menarik bahasanya karena dianggap dapat menyesatkan, sehingga tidak menyinggung perasaan masyarakat setempat. Artinya, jika Gubernur Sumut tidak mampu mengelola keindahan alam teritorialnya memungkinkan bisa mengundurkan diri.

Ditambahkan, kerugian masyarakat seputar Danau Toba atas statement Gubernur Sumut ini, akan meredupkan atau mematikan ekonomi maupun budaya adat istiadat masyarakat setempat.

Pak Maruba Nainggolan yang berasal dari Kabupaten Dairi juga menambahkan, Gubernur Sumut harus meluangkan waktu untuk naik perahu di Danau Toba, sembari belajar sejarah dari sesepuh masyarakat Danau Toba terkait asal muasal sejarah Festival Danau Toba, sehingga tidak terkesan asal bicara.

Selaras diucapkan Rihol Sihotang yang berasal dari Kabupaten Humbang Hasundutan mengatakan, Sebagai seorang pejabat setingkat Gubernur yang memiliki wilayah teritorial, seharusnya memberikan opini pesan moral serta mampu meningkatkan taraf hidup masyarakatnya, bukan menimbulkan perkataan negatif yang justru meredupkan ekonomi dan pariwisata diwilayahnya. Dengan demikian statement Gubernur tersebut segera dipulihkan dan sesegera mungkin diklarifikasi untuk menyejukkan hati masyarakat sekeliling Danau Toba.

“Jabatan itu amanah, hanya sementara jadi jangan menimbulkan polemik dan konflik yang bisa membekas dihati masyarakat luas”. tambah Gamal Purba menutup diskusi bebas.

Redaksi.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker