DaerahLingkungan

Pantai Nongsa Dicemari Limbah Lagi

Limbah minyak jenis sludge oil  mencemari bibir pantai di Batam. Pencemaran lingkungan ini sepertinya sudah menjadi agenda tahunan. Kali ini, limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) tersebut mencemari perairan Nongsa.

“Minyak hitam mirip aspal (sludge oil) ini sudah terdampar sejak Sabtu (21/1/2017) kemarin. Sangat banyak,” kata Dayat, warga Nongsa Pantai, di lokasi, Rabu (25/01/2017).

Limbah B3 tersebut, katanya, terdampar bersamaan dengan cuaca musim angin utara. Sehingga minyak tersebut terdampar ke bibir pantai, terbawa arus serta ombak yang disertai angin kencang.

“Kabarnya minyak ini berasal dari tabrakan kapal di tengah laut, jadi terbawa ke bibir pantai saat sudah membeku,” kata dia lagi.

Akibatnya, kata dia, ekosistem laut tercemar oleh tumpukan limbah yang membeku tersebut. Tidak hanya itu, wisatawan yang berkunjung ke pantai Nongsa juga terpaksa kembali akibat laut yang sudah tercemar.

“Kalau terkena minyak ini, kulit kita bisa panas. Makanya pengunjung yang datang terpaksa balik lagi. Termasuk yang hendak berlibur ke Pulau Putri, karena pantai di sana juga tercemar,” ujar Dayat.

Epi, warga lainnya mengatakan, kondisi perairan sisi Utara Pulau Batam yang menjadi jalur pelayaran internasional dengan banyak kapal besar melintas itu, mengakibatkan seringnya terjadi pencemaran, khususnya ketika musim angin Utara.

“Hampir setiap musim Utara pasti ada semacam minyak yang mencemari pantai. Di depan sana (OPL-red) kapal-kapal besar setiap saat hilir mudik,” kata dia.

Dia mengatakan, pada Minggu, 22 Januari lalu, petugas Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Batam sudah terjun ke lokasi untuk lakukan pengecekan atas pencemaran yang terjadi.

Menangapi hal itu, Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Batam, Dendi Purnomo, yang dikonfirmasi  mengatakan, limbah jenis sludge oil yang mencemari perairan Nongsa itu, diketahui pada Sabtu (21/01/2017) kemarin.

“Minggu paginya kita survei ke lokasi dan telah diambil sampelnya untuk uji lab. Perkiraan ada 40 sampai 60 ton sludge oil dengan jarak yang terpapar 1,2 kilometer,” katanya melalui sambungan telepon.

Dugaan sementara, limbah B3 jenis sludge oil tersebut berasal dari dua kapal tanker yang mengalami kecelakaan pada Desember 2016 lalu di Selat Philip, yang mengakibatkan minyak tumpah.

“Sejauh ini tidak ada berasal dari perusahaan limbah di Batam. Hasil monitoring kita pada bulan ini mereka tidak ada kloning,” kata Dendi.

Namun Dendi tidak memberi keterangan terkait tindakan atau claim apa yang mau diterapkan oleh pihaknya terhadap perusahaan ataupun kapal yang diduga sengaja membuang limbah ini diperairan bebas. sehingga perairan Indonesia khususnya Batam sangat tercemari.

Selain mengambil langkah dengan membawa pulang sampel Sludge Oil tersebut, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Guskamla, terkiat adanya kapal yang melintas di perairan Internasional.

Limbah B3 jenis Sludge Oil yang terdampar kali ini tidak hanya terjadi di Batam. Dendi mengatakan, perairan Bintan juga terkena dampak dari Sludge Oil yang terdampar tersebut.

Editor: Gamal

Sumber ; Batamtoday.com

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker