News

Proyek BP Batam Akhir Tahun, Tidak Menemukan Titik Injeksi Underpass Pelita?

FAKTAAKTUAL.COM, BATAM – Perbaikan underpass atau jembatan Pelita yang sedang dikerjakan oleh kontraktor pelaksana yaitu PT. Hajar Aswad pada akhir tahun 2019 ini, akan rampung dan selesai pada Tanggal 17 November 2019, sesuai dengan pengumuman Plang proyek dilokasi.

PT. Hajar Aswad sebagai pemenang tender dalam perbaikan underpass Pelita, dikhabarkan sudah sangat berpengalaman dan handal dalam hal pekerjaan injeksi ground di Indonesia. Terbukti, walupun Perusahaan ini berkantor pusat didaerah Bandung, namun PT inilah yang dianggap propesional.Hal ini dibuktikan oleh Boy Zasmita sebagai Pimpinan Proyek (pimpro) dari BP Batam sebagai user pengadaan anggaran Proyek, yang diwawancara Batampos.co.id.Mengatakan seperti ini,

Senin 19/5/2019 dan diekspos pada Minggu 26/5/2019.

BP sebelumnya sudah dua kali mengadakan lelang pemelihaan terowongan ini. Namun karena pekerjaannya membutuhkan keahlian khusus, maka perusahaan yang mengajukan diri harus memenuhi persyaratan khusus tersebut. Sayangnya BP belum mendapatkannya.

Boy menuturkan, kalau memperbaiki terowongan dari atas hanya membutuhkan anggaran tak sampai Rp 1 miliar. Namun, risikonya akan melumpuhkan kegiatan perekonomian, karena banyak kontainer yang mengangkut barang konsumsi dan bahan baku industri mondar-mandir di atas jalan tersebut.

”Maka dipakailah teknologi yang memungkinkan agar tidak mengganggu. Itulah mengapa nilainya lumayan besar, karena teknologi itu belum bisa dibuat di Indonesia,” terangnya.

Menurut Kabid Humas BP Batam, yang dikonfirmasi media faktaaktual.com, Rabu 6/11/2019 sore mengatakan, PT. Hajar Aswad beralamat di Kota Bandung termasuk Konsultan dari PT. Hajar Aswad juga beralamat di kota Bandung. “PT. Hajar Aswad sebagai pelaksana pekerjaan Proyek beralamat di Kota Bandung, dan PT.Graha Surfey Indonesia sebagai Konsultan PT. Hajar Aswad juga beralamat di Bandung. Sementara Konsultan Pengawas dari BP Batam yaitu PT. Wadah Cipta Tekhnik beralamat di Tanjung Pinang”.  Ucap Yudi kepada faktaaktual.com.

Timbul pertanyaan, kenapa pelaksana Proyek maupun konsultan pengawas proyek berasal dari luar Kota Batam?

Ditanya soal berapa banyak titik retak yang harus dikerjakan sebagai cikal bakal untuk menghitung angka anggaran yang digelontorkan dari APBN pada proyek perbaikan underpass Pelita tersebut,  serta harus melakukan injeksi yang belum ada dibuat di Indoneasia?

Yudi, tidak tau berapa banyak. “secara teknis pekerjaan Humas BP Batam tidak begitu mendalaminya mas”, katanya.

faktaaktual.com menggali informasi soal pekerjaan proyek injeksi yang dimaksud. Kemudian sebagai bahan percontohan adalah proyek perbaikan jembatan Ampera di Palembang yang di injeksi dari bawah dan atas jembatan sebanyak 6.000 titik injeksi. Hasil surfey yang dilakukan oleh konsultan untuk menemukan titik injeksi, sehingga bisa menentukan rekapitulasi anggaran.

Ditempat terpisah, seorang penggiat sosial dibatam mengatakan, bahwa untuk perlengkapan peralatan dalam melakukan pekerjaan injeksi seperti di underpass pelita, banyak dijumpai di Indonesia dan harga relatif murah.“Peralatan untuk ijeksi yang dipergunakan untuk perbaikan underpass Pelita itu banyak di Indonesia, dan relatif murah. Nah, Kalau bisa didapat didalam negeri kenapa harus dari luar negeri”, Kata Aldi Braga cetus.Tambah Aldi, justru mempertanyakan, apa dasar penghitungan anggaran proyek tersebut sehingga ditemukan angka 6 miliar lebih. Apalagi pihak konsultan dari pelaksana proyek maupun konsultan pengawas Proyek tidak bisa dikonfirmasi. Sehingga diduga kuat proyek ini mark-up di akhir tahun.

“Apa dasar dan atau pola hitung dari User menentukan angka anggaran proyek, jika tidak bisa menghitung titik injeksi. kemudian sama siapa kita bisa meminta konfirmasi saat konsultan kedua belah pihak terkesan tertutup dan ditutupi, Seharusnya BP Batam sebagai User proyek, perlu membuka hal ini kepublik, apalagi kontraktor pelaksana dan konsultannya berasal dari daerah lain”. Jelas Aldi.Media ini juga meminta pendapat kepada Pak Herman yang selalu menangani proyek jalan dan jembatan maupun ijeksi jalan dari atas maupun bawah jembatan di Jaya Pura, melalui WhatsApp. Menerangkan, pekerjaan injeksi beton yang mereka lakukan diwilayah PT. Freeport mengajukan anggaran Rp 250.000/titik injeksi.

Hingga berita ini diekspos, faktaaktual.com belum mendapatkan informasi logika dan terbuka terkait tata cara penghitungan angka anggaran proyek termasuk teknis pelaksnaan proyek dari pihak BP Batam mengenai  perbaikan underpass Pelita.

Redaksi.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker